Seorang Pemenang Akan melihat kemnangan di balik kekalahannya.
Kegagalan itu biasa,itu kata mereka yang tidak mengenal kata putus asa. Tapi bagi mereka yang mudah mengeluh. kegagalan berarti keburaman, Selesai.
taufik pernah mendengar dua hal mengenai kegagalan. Pertama, kegagalan adalah sebuah perlindungan Tuhan dari kegagalan yang lebih besar.Artinya, jika tidak gagal sekarang, maka bisa jadi kegagalan yang lebih besar yang akan terjadi. Kita tidak tahu apa yang terbaik untuk kita. Kedua kegagalan adalah wujud kesuksesan yang lebih besar.
Intinya kepositifan berpikir. Apapun yang terjadi sangat kita perlukan cara berpikir yang positif. Hasilnya kehidupan akan berlangsung dalam keadaan yang tetap nyaman.
Coba kalau kita berpikir dengan pola pikir yang negatif, maka kenegatifan itu yang mewarnai kehidupan di masa yang akan datang.
Taufik sangat meyakini ebuah nasihat berikut ini. " kesuksesan biasanya muncul setelah atau dua kali kegagalan. Seorang akan belajar habis-habisan apa yang perlu dilakukan dan apa yang perlu diubah dalam menyikapi kegagalan.
jadilah pemenang pada setiap keadaan! seperti ucapan Prabu Bisma, raja dari negeri Astina Pura,"Seorang pemenang adalah bukan saja ketika ia bisa memenangkan pertempuran, tetapi ketika ia juga bisa menerima kekalahan dengan lapang dada."
Di balik kegagalan, ada sejuta harapan, asal kita bergantung kepada Sang Pemenuh Harapan.
dikutip dari bUKU WiSatA hAtI.
KeHiduPAn yanG rAPuh
.
Read More..
Thursday, 19 February 2009
Friday, 2 January 2009
Mulai Melangkah
Seekor burung bisa makan karena ia mengepakan sayapnya ...
Apa yang harus kita lakukan ketika kita sudah percaya diri?, ketika kita sudah memiliki modal untuk menuju sukses ? Jawabnya adalah mulai melangkah !.
Langkah seratus meter dimulai dengan langkah satu kaki. Setiap perbuatab besar selalu dimulai dengan langkah kecil. Terlambat memulai, terlambat juga menuai.
Luqman sangat tertarik dengan kalimat yang dijadikan pembuka tulisan ini."Seekor burung bisa makan karena mengepakan sayapnya..."
Jadi, bila melakukan sesuatu tindakan (action), maka harapan tinggallah harapan. Angan tinggallah angan. harus ada sebuah langkah.
Keseimbangan antara keberanian dan perhitungan, kecepatan dan kewaspadaan akan menjadi faktor penentu suksesnya langkah itu sendiri. Artinya, melangkah tapi tetap dengan perhitungan.
Seorang senior pernah bilang ke juniornya di acara PASWA (Pengenalan Studi dan Wawasan Almamater) STMIK Mahakarya, Cengkareng, Jakarta Barat, Katanya jangan tunggu selesai Wisuda, baru kalian mencari pekerjaan. Memburu pekerjaan justru sejak dini hari. Mulailah mengintip peluang apa yang bakal terbentang di kemudian hari atau yang ada sekarang. Ketika saat Wisuda, kita sudah siap duluan.
Sebut saja senior tersebut Rhido. Berbeda dengan mahasiswa yang lain, sejak semester satu, semangat dan stamina rhido ini memang berbeda. Pada semester ketuga, dia sudah menguasai beberapa bahasa pemograman populer, lalu kebisaannya itu dijadikan sarana untuk mencoba melamar disebuah perusaan IT. Diterima lantas, ia menyesuaikan jadwal kuliah dengan kerja. Ketika tidak bisa disesuaikan lagi, ia pindah kelas malam. ia tetap kuliah, meskipun semakin tahu bahwa ternyata tidak cukup mengandalkan bangku kuliah. Ini bahasa halusnya tidak ada yang bisa diambil dari sistem perkuliahan di tanah air. Setidaknya hampir mayoritas perguruan tinggi. Ilmu terbaik itu adanya dilapangan.
Ketika pekerjaan semakin menuntut banyak waktu dan tenaga, ia mengambil cuti. Disini ia bertaruh. Bertaruh di wisuda agak telat dan pasti lulusnya belakangan. Tapi ia memilih pekerjaannya. Kebetulan ia bisa melakukan apa yang oleh pepatah dikatakan sambil menyelam minum air. Ia menimba ilmu sebanyak-banyaknya di tempat kerjanya dan berbaur dengan para programer senior menjadikannya bertambah luas ilmu dan keahliannya.
Setahun kemudian ia kembali kuliah. Saat itu kebetulan posisi asisten lab lagi kosong, dengan kemampuan barunya Rhido menempati posisi itu. Akhirnya di semester akhir, dia justru di angkat dengan hormat menjadi kepala Lab. Rhido juga sekaligus yang merancang dan mengembangkan sistem informasi kampus berbasis web. Suatu keahlian yang tidak dimiliki teman-temannya yang berkategori biasa-biasa saja. memang benar Rhido terlambat lulus. Tapi teman-temannya mengakui kemanjuan Rhido, justru dibandingkan dengan mereka-mereka yang lulus duluan.
Demikianlah pentingnya segera mulai melangkah. Tapi meski demikian, apa yang diutarakan di atas tetap perlu, yakni tetap melakukan perhitungan untung rugi.
dikutip dari Buku Wisata Hati
KEHIDUPAN YANG RAPUH
oleh : Ustd Yusuf Mansur Read More..
Apa yang harus kita lakukan ketika kita sudah percaya diri?, ketika kita sudah memiliki modal untuk menuju sukses ? Jawabnya adalah mulai melangkah !.
Langkah seratus meter dimulai dengan langkah satu kaki. Setiap perbuatab besar selalu dimulai dengan langkah kecil. Terlambat memulai, terlambat juga menuai.
Luqman sangat tertarik dengan kalimat yang dijadikan pembuka tulisan ini."Seekor burung bisa makan karena mengepakan sayapnya..."
Jadi, bila melakukan sesuatu tindakan (action), maka harapan tinggallah harapan. Angan tinggallah angan. harus ada sebuah langkah.
Keseimbangan antara keberanian dan perhitungan, kecepatan dan kewaspadaan akan menjadi faktor penentu suksesnya langkah itu sendiri. Artinya, melangkah tapi tetap dengan perhitungan.
Seorang senior pernah bilang ke juniornya di acara PASWA (Pengenalan Studi dan Wawasan Almamater) STMIK Mahakarya, Cengkareng, Jakarta Barat, Katanya jangan tunggu selesai Wisuda, baru kalian mencari pekerjaan. Memburu pekerjaan justru sejak dini hari. Mulailah mengintip peluang apa yang bakal terbentang di kemudian hari atau yang ada sekarang. Ketika saat Wisuda, kita sudah siap duluan.
Sebut saja senior tersebut Rhido. Berbeda dengan mahasiswa yang lain, sejak semester satu, semangat dan stamina rhido ini memang berbeda. Pada semester ketuga, dia sudah menguasai beberapa bahasa pemograman populer, lalu kebisaannya itu dijadikan sarana untuk mencoba melamar disebuah perusaan IT. Diterima lantas, ia menyesuaikan jadwal kuliah dengan kerja. Ketika tidak bisa disesuaikan lagi, ia pindah kelas malam. ia tetap kuliah, meskipun semakin tahu bahwa ternyata tidak cukup mengandalkan bangku kuliah. Ini bahasa halusnya tidak ada yang bisa diambil dari sistem perkuliahan di tanah air. Setidaknya hampir mayoritas perguruan tinggi. Ilmu terbaik itu adanya dilapangan.
Ketika pekerjaan semakin menuntut banyak waktu dan tenaga, ia mengambil cuti. Disini ia bertaruh. Bertaruh di wisuda agak telat dan pasti lulusnya belakangan. Tapi ia memilih pekerjaannya. Kebetulan ia bisa melakukan apa yang oleh pepatah dikatakan sambil menyelam minum air. Ia menimba ilmu sebanyak-banyaknya di tempat kerjanya dan berbaur dengan para programer senior menjadikannya bertambah luas ilmu dan keahliannya.
Setahun kemudian ia kembali kuliah. Saat itu kebetulan posisi asisten lab lagi kosong, dengan kemampuan barunya Rhido menempati posisi itu. Akhirnya di semester akhir, dia justru di angkat dengan hormat menjadi kepala Lab. Rhido juga sekaligus yang merancang dan mengembangkan sistem informasi kampus berbasis web. Suatu keahlian yang tidak dimiliki teman-temannya yang berkategori biasa-biasa saja. memang benar Rhido terlambat lulus. Tapi teman-temannya mengakui kemanjuan Rhido, justru dibandingkan dengan mereka-mereka yang lulus duluan.
Demikianlah pentingnya segera mulai melangkah. Tapi meski demikian, apa yang diutarakan di atas tetap perlu, yakni tetap melakukan perhitungan untung rugi.
dikutip dari Buku Wisata Hati
KEHIDUPAN YANG RAPUH
oleh : Ustd Yusuf Mansur Read More..
Wednesday, 3 December 2008
Oh, Filsafat Ketuhanan ?
"Kemudian aku mulai berpikir, apakah aku harus menyerang ataukah bersabar dalam kegelapan yang membutakan, dimana orang dewasa menjadi lemah, yang muda menjaditua, dan orang min hidup dalam tekanan hingga bertemu dengan Tuhannya. Untuk kesekian kalinya, aku berusaha engikuti perjalanan hidup beliau (imam Ali as) dan bersungguh-sungguh menjalankan sunahnya. Aku memandang bahwa kesabaran atasnya lebihpantas, maka aku memilih kesabaran walaupun menusuk di mata dan mencekik dikerongkongan.
Kupegang erat kendali untuk bergabung dengan orang-orang. Aku telah berputus asauntuk bergaul dan menemani mereka. Aku berpuaya untuk menjauhi mereka, hingga akutidak lagi terpengaruh dari celaan dan pujian mereka. Bagiku sama saja, mereka melakukan suatu hal yang memuliakanku atau menjatuhkan martabatku.
Akhirnya kuhadapkan diriku dengan naluriku ke hadapan Penyebab segala sebab dankurendahkan diriku dengan kerendahan yang alami ke haribaan Yang Mempermudah segala urusan yang sulit. Ketika aku beruzlah dalam masa yang sangat lama. Jiwaku pun memancarkan cahaya yang terang. Karena seringnya beriyadhah. Cahaya-cahaya malakul memancar atasnya, bunga-bunga jabarut menghiasi, sinar-sinar ahadiah menyinarinya,dan kelembutan-kelembutan ilahi bersanding dengannya, rumus-rumus yang tersingkap dengan pembuktian demonstratifnya, kini kusaksikan hakikatnya ditambah dengan hal-halyang baru. Aku melihat rahasia-rahasia Ilahi, hakikat-hakikat Rabbani,..."(KitabAl-Himat Al-Muta'aliyah, jilid 1 hal 7-8).
Untaian kalimat diatas menerangkan sikap spiritual yang dirasakan oleh seorang filosof yang dikenal dengan Mulla Shadra. Suatu ketika ada seorang yang menjelek-jelekan Mulla Shadra dan hal ini sampai ke telinga Imam Khomeni ra, beliaupun berkata,"Mulla Shadra, Wa Ma Adraka Ma Mulla Shadra".
Muhammad bin Ibrahim bin Yahya Qowami dikenal dengan Shadruddin Syirazi atau Shadrul Mutaallihin atau Mulla Shadra. Beliau dilahirkan kira-kira tahun 979 atau 980 H. Pada masa mudanya, beliau berhijrah dari Syiraz menuju Isfahan untuk menuntut ilmu. Dua orang gurunya yang terkenal, yaitu Syaikh Bahai dan Mir Damad mengajarkan ilmu aqli dan naqli. Karena kedengkian dari teman-temannya, beliau akhirnya beruzlah ke desa Kahak, Qom. Pada waktu ingin menunaikan ibadah haji yang ketujuh, ditengah perjalanan beliau meninggal dunia di kota Bashrah pada tahun 1050 H. Perjalanan kehidupan Mulla Shadra melalui tiga periode,
1. Periode menuntut ilmu aqli dan naqli dari guru-gurunya di Syiraz dan Isfahan.
2. Periode Uxlah di desa Kahak, Qom
3. Periode mengajar, menulis dan menjawab pertanyan-pertanyaan.
Adapun perjalanan pemikiran melalui lima periode,
1. Periode pertama, yaitu masa mempelajari dan mengikuti pemikiran-pemikiran para filodof dan ahli teoligi, baik itu dari aliran filsafat peripatetik ataupun aliran filsafat iluminasi dan dari pemikiran As'ariyah ataupun pemikiran mu'tazilah. Pada masa ini diibaratkan sebagai,"Kebaikan orang-orang yang berbaik adalah keburukan bagi pada muqorrabin". Beliau menyadari pada masa ini, ia telah menghabiskan umurnya dan merasa telah berbuat lengah dari berzikir dan berpikir, akhirnya beliau pun beristigfar.
2. Periode kedua, yaitu masa pergerakan subtansi jiwa dan perubahan ruhiyah dari pluralitas menuju wahdah (kesatuan), atau perjalanan dari mahluk menuju Al-haqq dengan menyaksikan awal penciptaan.
3. Periode ke tiga, yaitu masa pergerakan subtansi jiwa dan perubahan ruhiyah dari kesatuan menuju kesatuan, atau perjalanan dari Al-Haqq menuju Al-Haqq bersama dengan Al-Haqq sambil menyaksikan hakikat-hakikat Al-Asma Al-Husna inilah perjalanan yang terpanjang.
3. Periode ke empat, yaitu masa pergerakan subtansi jiwa dan perubahan ruhiyah dari kesatuan menuju pluralitas, atau perjalanan dari Al-Haqq menuju mahluk dengan menyaksikan tanda-tanda kebesaran Tuhan dalam keberanekaragaman lokus-lokus manifestasi keagungan dan keindahan-Nya.
5. Periode kelima, yaitu masa pergerakan substansi jiwa dan perubahan ruhiyah dari pluralitas menuju pluralitas, yaitu perjalanan dari mahluk menuju mahluk bersama Al_haqq untuk menyampaikan pesan Al-Haqq kepada lokus-lokus manifestasi-Nya dengan bahasa pluritas dalam mengajarkan ilmu, menulis danmembimbing penyusian diri murid-muridnya.(Rahiq Makhtum Jilid 1, hal 27, Ayatullah Jawadi Amuli) Perjalanan ini menghasilkan karya-karya yang luar bisa dalam aliran filsafat transendental atau al-hikmah al-mutaaliyah. Topik-topik pembahasan dalam aliran filsafat ini diringkas dengan perkataan Aiman Ali as,"Allah mengasihi seseorang yang mempersiapkan dirinya dan bersiap untuk ke kuburnya serta mengetahui dari mana, di mana dan kemana."(Kitab I'lam al-din, hal 334)."Dari mana mengisyaratkan pada tempat asal,"Dahulu Allah ada, dan tak ada satupun yang bersama-Nya", sekarang seperti dahulu" dan "ke mana" mengisyaratkan tempat kembali, "Para malaikat dan ruh turun dimalam itu dengan izin Tuhan mereka dengan membawa segala perintah". "Kemana" menunjukan busur naik, "Wahai jiwa yang tenang kembalilah pada Tuhanmu "dan" Para malaikat dan ruh naik kepada-Nya pada hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun". Adapun "di mana" mengisyaratkan hari perjalanan, "Maka berjanlah di bumu ini, lalu lihatlah", yaitu hari bertadabbur pada ayat-ayat Allah SWT.
Diantara kitab-kitab beliau yang membahas topik-topik tesebut (dari mana, dimana dan kemana), yaitu Al-Hikmah Al-Muta'aliyah (9 jilid), Al-Syawahidu Al-Rububiyyah, Al-Mabda wa Al-Ma'ad, Al-Arsyiah, Mafatihu Al-Ghayb, Al-Mazhahir Al-Ilahiyyah dan alam tafsir beliau yang dicetak menjadi tujuh jilid begitu juga pada penjelasan beliau terhadap kitab hadis Ushul Al-Kafi serta risalah beliau yang lain. Disini saya akan memberikan diagram untuk mempermudah penjelasan.

Keterangan :
A = Alam Akal, Alam Perintah, Ruh
B = Alam Mitsal, Alam Imajinal, Jiwa
C = Alam Materi, Alam Jasmani, Alam Penyaksian, Alam Penciptaan, Alam Mulk, Badan,Jasad.
-Hubungan B ke A, sebagai akal secara potensial (dengan pergerakan subtansi akan menjadi akal secara aktual).
-Hubungan A ke B, sebagai akal secara aktual
-Hubungan A ke B, A menjadi Alam BAtin
-Hubungan b ke C, B menjadi Alam Batin
-Alam Batin disebut juga dengan Alam Malakut.
Jiwa manusia melakukan perjalanan spiritual dengan ilmu serta melaksanakan riyadhah keagamaan dan ibadah-ibadah yang disyariatkan. Kesemuanya itu berfungsi sebagai proses pengilapan cermin yang mengeluarkan jiwa dari potensialitas menuju aktualitas hingga menjadi akal secara aktual setelah sebelumnya adalah akal secara potensial. "Kepada-Nya kalimat yang baik itu naik dan amal shaleh yang mengangkat kalimat itu".
Dalam proses naik atau kembali, jiwa menuju kesempurnaan dengan ilmu dan memalingkan diri dari perkara-perkara duniawi dan jasmani. Jiwa seorang yang arif senantiasa menghadap pada alam kesucian dan mengharapkan kedekatan dengan-Nya. Adapun orang yang bodoh hanya mencintai hal-hal yang batil dan angan-angan yang cepat berakhir. Tak ada keraguan bahwa dunia dan keinginan-keinginan duniawi adalah perkara-perkara yang batil. Para pecinta dunia akan dikumpulkan ke alam kebinasaan, kejahatan dan kegelapan. Tempat kembalinya adalah neraka dan baginya azab yang pedih. Mungkin dari sinilah kia bisa merenungkan sabda rasulullah SAW kepada imam Ali as, "Wahai Ali, jika manusia mendekatkan diri mereka kepada Tuhan mereka dalam pintu-pintu kebaikan, maka dekatkanlah dirimu pada-Nya dengan bermacam-macam akal, engkau akan mendahului mereka dengan beberapa derajat dan kedekatan disis manusia di dunia dan kedekaatan disisi Allah di akherat."(Hilyat Al-Awliya, juz 1, hal 18). Apakah yang dimaksud dengan bermacam-macam akal ? rasulullah saw bersabda,"Aku diberikan kalimat-kalimat yang serba mencakup". Kalimat-kalimat diatas adalah hakikat-hakikat dari maujud-maujud dan entitas-entitasnya yang terdapat di alam akal. Alam akal ini diibaratkan dengan surga pertemuan karena alam ini lebih dekat dengan Tuhan. Adapun surga yang mengalir sungai-sungai mengalir dibawahnya diibaratkan dengan alam mitsal.
Jika ini belum jelas, masilah kita renungkan kembali sebuah paragraf dalam doa kumail, sebuah doa yang diajarkan oleh Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib kepada muridnya, Kumail bin Ziyad,"Aku sabar menanggung siksa-Mu, mana mungkin aku mampu bersabar berpisah dari-Mu. Aku sabar menahan api-Mu, mana mungkin aku mampu bersabar melihat pada kemuliaan-Mu". Dalam salah satu surat Imam Khomeni ra kepada putrinya yang menjelaskan keadaan beliau saat membaca doa diatas, "Aku tak mampu membaca paragraf ini dan beberapa paragraf yang lain dalam doa yang mulia ini dengan jujur hingga sekarang. Aku membacanya dengan lisan Ali as" (Al-Mazhahir Al-Rahmaniyyah, hal 52). Apakah yang dimaksud "mana mungkin aku mampu bersabar berpisah dari-Mu dan mana meungkin aku mampu bersabar melihat pada kemuliaan-Mu itukah yang dimaksud dengan surga pertemuan yang tertinggi ?
Memang kita seharusnya perlu banyak merenung ???
Oleh : Iklas Budiman
Tulisan Pengantar Paket Kajian Filsafat Ketuhanan
YPI Al Jawad Bandung
Sabtu, 8 November 2003
.
. Read More..
Kupegang erat kendali untuk bergabung dengan orang-orang. Aku telah berputus asauntuk bergaul dan menemani mereka. Aku berpuaya untuk menjauhi mereka, hingga akutidak lagi terpengaruh dari celaan dan pujian mereka. Bagiku sama saja, mereka melakukan suatu hal yang memuliakanku atau menjatuhkan martabatku.
Akhirnya kuhadapkan diriku dengan naluriku ke hadapan Penyebab segala sebab dankurendahkan diriku dengan kerendahan yang alami ke haribaan Yang Mempermudah segala urusan yang sulit. Ketika aku beruzlah dalam masa yang sangat lama. Jiwaku pun memancarkan cahaya yang terang. Karena seringnya beriyadhah. Cahaya-cahaya malakul memancar atasnya, bunga-bunga jabarut menghiasi, sinar-sinar ahadiah menyinarinya,dan kelembutan-kelembutan ilahi bersanding dengannya, rumus-rumus yang tersingkap dengan pembuktian demonstratifnya, kini kusaksikan hakikatnya ditambah dengan hal-halyang baru. Aku melihat rahasia-rahasia Ilahi, hakikat-hakikat Rabbani,..."(KitabAl-Himat Al-Muta'aliyah, jilid 1 hal 7-8).
Untaian kalimat diatas menerangkan sikap spiritual yang dirasakan oleh seorang filosof yang dikenal dengan Mulla Shadra. Suatu ketika ada seorang yang menjelek-jelekan Mulla Shadra dan hal ini sampai ke telinga Imam Khomeni ra, beliaupun berkata,"Mulla Shadra, Wa Ma Adraka Ma Mulla Shadra".
Muhammad bin Ibrahim bin Yahya Qowami dikenal dengan Shadruddin Syirazi atau Shadrul Mutaallihin atau Mulla Shadra. Beliau dilahirkan kira-kira tahun 979 atau 980 H. Pada masa mudanya, beliau berhijrah dari Syiraz menuju Isfahan untuk menuntut ilmu. Dua orang gurunya yang terkenal, yaitu Syaikh Bahai dan Mir Damad mengajarkan ilmu aqli dan naqli. Karena kedengkian dari teman-temannya, beliau akhirnya beruzlah ke desa Kahak, Qom. Pada waktu ingin menunaikan ibadah haji yang ketujuh, ditengah perjalanan beliau meninggal dunia di kota Bashrah pada tahun 1050 H. Perjalanan kehidupan Mulla Shadra melalui tiga periode,
1. Periode menuntut ilmu aqli dan naqli dari guru-gurunya di Syiraz dan Isfahan.
2. Periode Uxlah di desa Kahak, Qom
3. Periode mengajar, menulis dan menjawab pertanyan-pertanyaan.
Adapun perjalanan pemikiran melalui lima periode,
1. Periode pertama, yaitu masa mempelajari dan mengikuti pemikiran-pemikiran para filodof dan ahli teoligi, baik itu dari aliran filsafat peripatetik ataupun aliran filsafat iluminasi dan dari pemikiran As'ariyah ataupun pemikiran mu'tazilah. Pada masa ini diibaratkan sebagai,"Kebaikan orang-orang yang berbaik adalah keburukan bagi pada muqorrabin". Beliau menyadari pada masa ini, ia telah menghabiskan umurnya dan merasa telah berbuat lengah dari berzikir dan berpikir, akhirnya beliau pun beristigfar.
2. Periode kedua, yaitu masa pergerakan subtansi jiwa dan perubahan ruhiyah dari pluralitas menuju wahdah (kesatuan), atau perjalanan dari mahluk menuju Al-haqq dengan menyaksikan awal penciptaan.
3. Periode ke tiga, yaitu masa pergerakan subtansi jiwa dan perubahan ruhiyah dari kesatuan menuju kesatuan, atau perjalanan dari Al-Haqq menuju Al-Haqq bersama dengan Al-Haqq sambil menyaksikan hakikat-hakikat Al-Asma Al-Husna inilah perjalanan yang terpanjang.
3. Periode ke empat, yaitu masa pergerakan subtansi jiwa dan perubahan ruhiyah dari kesatuan menuju pluralitas, atau perjalanan dari Al-Haqq menuju mahluk dengan menyaksikan tanda-tanda kebesaran Tuhan dalam keberanekaragaman lokus-lokus manifestasi keagungan dan keindahan-Nya.
5. Periode kelima, yaitu masa pergerakan substansi jiwa dan perubahan ruhiyah dari pluralitas menuju pluralitas, yaitu perjalanan dari mahluk menuju mahluk bersama Al_haqq untuk menyampaikan pesan Al-Haqq kepada lokus-lokus manifestasi-Nya dengan bahasa pluritas dalam mengajarkan ilmu, menulis danmembimbing penyusian diri murid-muridnya.(Rahiq Makhtum Jilid 1, hal 27, Ayatullah Jawadi Amuli) Perjalanan ini menghasilkan karya-karya yang luar bisa dalam aliran filsafat transendental atau al-hikmah al-mutaaliyah. Topik-topik pembahasan dalam aliran filsafat ini diringkas dengan perkataan Aiman Ali as,"Allah mengasihi seseorang yang mempersiapkan dirinya dan bersiap untuk ke kuburnya serta mengetahui dari mana, di mana dan kemana."(Kitab I'lam al-din, hal 334)."Dari mana mengisyaratkan pada tempat asal,"Dahulu Allah ada, dan tak ada satupun yang bersama-Nya", sekarang seperti dahulu" dan "ke mana" mengisyaratkan tempat kembali, "Para malaikat dan ruh turun dimalam itu dengan izin Tuhan mereka dengan membawa segala perintah". "Kemana" menunjukan busur naik, "Wahai jiwa yang tenang kembalilah pada Tuhanmu "dan" Para malaikat dan ruh naik kepada-Nya pada hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun". Adapun "di mana" mengisyaratkan hari perjalanan, "Maka berjanlah di bumu ini, lalu lihatlah", yaitu hari bertadabbur pada ayat-ayat Allah SWT.
Diantara kitab-kitab beliau yang membahas topik-topik tesebut (dari mana, dimana dan kemana), yaitu Al-Hikmah Al-Muta'aliyah (9 jilid), Al-Syawahidu Al-Rububiyyah, Al-Mabda wa Al-Ma'ad, Al-Arsyiah, Mafatihu Al-Ghayb, Al-Mazhahir Al-Ilahiyyah dan alam tafsir beliau yang dicetak menjadi tujuh jilid begitu juga pada penjelasan beliau terhadap kitab hadis Ushul Al-Kafi serta risalah beliau yang lain. Disini saya akan memberikan diagram untuk mempermudah penjelasan.

Keterangan :
A = Alam Akal, Alam Perintah, Ruh
B = Alam Mitsal, Alam Imajinal, Jiwa
C = Alam Materi, Alam Jasmani, Alam Penyaksian, Alam Penciptaan, Alam Mulk, Badan,Jasad.
-Hubungan B ke A, sebagai akal secara potensial (dengan pergerakan subtansi akan menjadi akal secara aktual).
-Hubungan A ke B, sebagai akal secara aktual
-Hubungan A ke B, A menjadi Alam BAtin
-Hubungan b ke C, B menjadi Alam Batin
-Alam Batin disebut juga dengan Alam Malakut.
Jiwa manusia melakukan perjalanan spiritual dengan ilmu serta melaksanakan riyadhah keagamaan dan ibadah-ibadah yang disyariatkan. Kesemuanya itu berfungsi sebagai proses pengilapan cermin yang mengeluarkan jiwa dari potensialitas menuju aktualitas hingga menjadi akal secara aktual setelah sebelumnya adalah akal secara potensial. "Kepada-Nya kalimat yang baik itu naik dan amal shaleh yang mengangkat kalimat itu".
Dalam proses naik atau kembali, jiwa menuju kesempurnaan dengan ilmu dan memalingkan diri dari perkara-perkara duniawi dan jasmani. Jiwa seorang yang arif senantiasa menghadap pada alam kesucian dan mengharapkan kedekatan dengan-Nya. Adapun orang yang bodoh hanya mencintai hal-hal yang batil dan angan-angan yang cepat berakhir. Tak ada keraguan bahwa dunia dan keinginan-keinginan duniawi adalah perkara-perkara yang batil. Para pecinta dunia akan dikumpulkan ke alam kebinasaan, kejahatan dan kegelapan. Tempat kembalinya adalah neraka dan baginya azab yang pedih. Mungkin dari sinilah kia bisa merenungkan sabda rasulullah SAW kepada imam Ali as, "Wahai Ali, jika manusia mendekatkan diri mereka kepada Tuhan mereka dalam pintu-pintu kebaikan, maka dekatkanlah dirimu pada-Nya dengan bermacam-macam akal, engkau akan mendahului mereka dengan beberapa derajat dan kedekatan disis manusia di dunia dan kedekaatan disisi Allah di akherat."(Hilyat Al-Awliya, juz 1, hal 18). Apakah yang dimaksud dengan bermacam-macam akal ? rasulullah saw bersabda,"Aku diberikan kalimat-kalimat yang serba mencakup". Kalimat-kalimat diatas adalah hakikat-hakikat dari maujud-maujud dan entitas-entitasnya yang terdapat di alam akal. Alam akal ini diibaratkan dengan surga pertemuan karena alam ini lebih dekat dengan Tuhan. Adapun surga yang mengalir sungai-sungai mengalir dibawahnya diibaratkan dengan alam mitsal.
Jika ini belum jelas, masilah kita renungkan kembali sebuah paragraf dalam doa kumail, sebuah doa yang diajarkan oleh Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib kepada muridnya, Kumail bin Ziyad,"Aku sabar menanggung siksa-Mu, mana mungkin aku mampu bersabar berpisah dari-Mu. Aku sabar menahan api-Mu, mana mungkin aku mampu bersabar melihat pada kemuliaan-Mu". Dalam salah satu surat Imam Khomeni ra kepada putrinya yang menjelaskan keadaan beliau saat membaca doa diatas, "Aku tak mampu membaca paragraf ini dan beberapa paragraf yang lain dalam doa yang mulia ini dengan jujur hingga sekarang. Aku membacanya dengan lisan Ali as" (Al-Mazhahir Al-Rahmaniyyah, hal 52). Apakah yang dimaksud "mana mungkin aku mampu bersabar berpisah dari-Mu dan mana meungkin aku mampu bersabar melihat pada kemuliaan-Mu itukah yang dimaksud dengan surga pertemuan yang tertinggi ?
Memang kita seharusnya perlu banyak merenung ???
Oleh : Iklas Budiman
Tulisan Pengantar Paket Kajian Filsafat Ketuhanan
YPI Al Jawad Bandung
Sabtu, 8 November 2003
.
. Read More..
ADA AJA, ADA LAGI
Kuta. Sore itu aku diajak oleh teman-temanklu tuk berjalan-jalan menelursuri pantai kuta. Indah dan segalanya memang indah. Ditengah kami menikmati berbagai macam keindahan sepanjang pantai tiba-tiba temanku mnyelutuk kepadaku "bagaimana pendapatmu dengannya ?" sambil mengisyaratkan cewe bule yang ber CD dan Ber BH. Entah apa secara spontan saya menjawab,"dimana kamu hadapkan wajahmu disitu wajah Allah." Ini sebuah renungan baginya yang tidak dijawab dengan UHUYY.."tapi cukup berkata,"ADA AJA , ADA lagi.
Mimpi..., Karena kekenyangan akupun tertidur pulas. Wah aku bermimpi, kala itu aku dan beberapa orang sedang ngantri di pintu masuk PRJ. Rupanya pintu itu sudah ditutup dan kami harus masuk pintu yang lain. Waduh jauh banget, pikir demi pikir tiba-tiba seorang diantara kami mengajak diskusi, Padahal sebelumnya kami tidak saling kenal. Diskusi itu bertemakan tentang agama. Tiba-tiba ada yang beride, "Agama itu wujud:, Ide itu menerpa lidahku tuk mengomentarinya. Dengan premis itu dan premis ini, ide gila itu akhirnya diterima, Agama itu adalah wujud???"pokoknya, ADA AJA, ADA lagi."Namanya juga mimpi.
Sekian banyak peristiwa terjadi pada diri kita baik itu dalam keadaan sadar atau tidak sadar. Dulunya belum terpikirkan namun akhirnya terjadi. Pendek kata, dulunya, TIDAK ADA akhirnya menjadi ADA. Filosof bilang itulah WUJUD. Ah masa begitu sih, lepaskan pikiran anda dari cengkeraman istilah dan tetek bengeknya. Emangnya istilah itu tidak menarik, saya akan mencoba menbahas tema-tema filsafat dengan bentuk cerita.
GELO baru saja nikah dengan si WENING. Anggap aja gelo itu si Majnun dan wening itu si layla. Bulan madunya di puncak.
MALAM PERTAMA, "WHAT IS ADA atau WUJUD?
Baru jam 20.00 WIB, namun kabut sudah meyelimuti cuaca.
"Gelo..., Bibirku itu merah, Wajahku itu cantik, Tanganku itu Halus dan Pahaku itu Mulus," seraya menggoda.
"Wening, Bibirku ADA, Tanganku ADA, Mataku ADA, Suaraku ADA?" bersajak di hariban sang Wening'
Itu mah Badihi, sudah jelas dengan sendirinya, ADA tidak perlu dikau nyatakan dengan kata. Tapi ngomong-ngomong dari mana yah kata "ADA" itu?"
"Sebelum kamu melihatku, ADA cinta dihatimu padaku,"rayu Gelo".
Ceilee, maksudmu kita mengambil kata"ADA" dari suatu yang dahulu kitatidak miliki, sebelum aku melihatmu, tidak ada takut dihatiku namun setelah melihatmu, ADA takut dihatiku. Seringkali TIDAK ADA dan ADA terjadinya dalam diri kita, namun kita lengah dengan ADA. Wujud itu ADA, Wujud dari kata WAJADA, artinya menemukkan. Dulunya belum ditemukan, akhirnya menemukan."
"Wening belajar bahasa arab dari siapa ? sok bisa. ADA itu sendiri tidak bisa didefinisikan."bak Aristo.
Iyalah, Bibirmu ADA dan tanganku ADA. Makna bibir tidak bermakna tangan. Makna ADA pada bibr dan ADA pada tangan itu mempunyai satu makna. Tuhan itu ADA, mahluk itu ADA. Makna Tuhan tidak bermakna mahluk, namun makna ADA pada Tuhan semakna dengan ADA pada Tuhan."
"kalo gitu kita kompak dong dengan tuhan. Tapi guru ngaji wening kemarin bilang Tuhan itu tidak seperti segala sesuatu. Dengan makna ADA itu, kita udah seperti Tuhan dong. Idih takut ah, nanti kwalat ama guru ngaji."sok bego.
"Beda dong, kita ngomong tentang makna ADA bukan dari esensi Tuhan. Kalo makna ADA juga udah beda, Sementara kia bilang Tuhan itu ADA, maksudnya pi yee, kalau tidak semakna dengan ADA yang kita pahami. Bukan lawan dari ADA itu TIDAK ADA. Berarti Tuhan itu TIDAK ADA, ini yang kwalat. Kalo kata ADA pada Tuhan tidak bisa dipahami, itu berarti kita tidak akan pernah mengenal Tuhan !. Karena akan selalu berbeda makna,"sambil menggerakan tangannya menerapkan metode Quantum Teaching.
Berarti ADA itu mempunyai satu makna dan satu kata, namun bisa ditempatkan pada kata apa saja. Tidak seperti kata "bisa" namun kata ini bisa bermakna "racun ular" dan bisa bermakna "mampu". Satu kata tapi mempunyai makna yang berbeda. Waduh, aku kayak berada di Istana kerajaan Yunani aja,"sambil beridiri memperagakan diri bak patung socrates.
"ADA itu lawannya TIDAK ADA. Tidak ada hanya mempunyai satu makna. Berarti ADA juga mempunyai satu makna, Jika ADA mempunyai dua makna, maka akan terjadi kontradiksi."tangkas Wening.
"Bri daku penjelasan wahai bunda pertiwi ? "sambil bersujud di hadapan Wening. Saat itu Wening lalu berdiri mengambil sehelai kerta kosong dan pena.
"Begini, lihat pada kertas kosong ini. Saya akan menggambarkan lubang!"sambil menggambar lingkaran.
"Lubang atau lingkaran, ah kamu bisa membuatku tidakk khusyu' aja."tancap gelo.
"sorry, lingkaran. Ada dua titik yang berada dalam lingkaran itu, sementara ada satu titik di luar lingkaran. Kedua titik itu bermakna ADA, dan yang diluar lingkaran bermakna TIDAK ADA, Dalam hal ini tidak terjadi kontradiksi. Karena ADA dan TIDAK ADA tidak terkumpul pada satu tempat. Ini berarti dua titik itu mempunyai makna sama.
Jika dua titik ADA itu tidak mempunyai makna yang sama tetapi berlainan makna, maka satu dari kedua titik itu harus berada di luar. Diluar ADA berkumpul dengan TIDAK ADA. Ini kontradiksi.
Jika dua titik ADA yang di dalam lingkaran ditempatkan di luar lingkaran, maka ADA juga akan berkumpul dengan TIDAK ADA. Ini Kontrdiksi.
Jika dua titik ADA ditempatkan di dalam lingkaran maka ADA tidak berkumpul dengan TIDAK ADA. Ini bukan kontradiksi "mantan guru matematika ini boleh juga gayanya"
"Wening tidur ya, penjelasanmu telah membuatku orgasme."gurau Gelo.
Dasar..., makanya beli kado ulang tahun mama." ejek Wening
Olehh Iklas budiman
Tulisan Pengantar Paket Kajian Filsafat Ketuhanan YPI Al Jawad Bandung
Sabtu, 8 november 2003
. Read More..
Mimpi..., Karena kekenyangan akupun tertidur pulas. Wah aku bermimpi, kala itu aku dan beberapa orang sedang ngantri di pintu masuk PRJ. Rupanya pintu itu sudah ditutup dan kami harus masuk pintu yang lain. Waduh jauh banget, pikir demi pikir tiba-tiba seorang diantara kami mengajak diskusi, Padahal sebelumnya kami tidak saling kenal. Diskusi itu bertemakan tentang agama. Tiba-tiba ada yang beride, "Agama itu wujud:, Ide itu menerpa lidahku tuk mengomentarinya. Dengan premis itu dan premis ini, ide gila itu akhirnya diterima, Agama itu adalah wujud???"pokoknya, ADA AJA, ADA lagi."Namanya juga mimpi.
Sekian banyak peristiwa terjadi pada diri kita baik itu dalam keadaan sadar atau tidak sadar. Dulunya belum terpikirkan namun akhirnya terjadi. Pendek kata, dulunya, TIDAK ADA akhirnya menjadi ADA. Filosof bilang itulah WUJUD. Ah masa begitu sih, lepaskan pikiran anda dari cengkeraman istilah dan tetek bengeknya. Emangnya istilah itu tidak menarik, saya akan mencoba menbahas tema-tema filsafat dengan bentuk cerita.
GELO baru saja nikah dengan si WENING. Anggap aja gelo itu si Majnun dan wening itu si layla. Bulan madunya di puncak.
MALAM PERTAMA, "WHAT IS ADA atau WUJUD?
Baru jam 20.00 WIB, namun kabut sudah meyelimuti cuaca.
"Gelo..., Bibirku itu merah, Wajahku itu cantik, Tanganku itu Halus dan Pahaku itu Mulus," seraya menggoda.
"Wening, Bibirku ADA, Tanganku ADA, Mataku ADA, Suaraku ADA?" bersajak di hariban sang Wening'
Itu mah Badihi, sudah jelas dengan sendirinya, ADA tidak perlu dikau nyatakan dengan kata. Tapi ngomong-ngomong dari mana yah kata "ADA" itu?"
"Sebelum kamu melihatku, ADA cinta dihatimu padaku,"rayu Gelo".
Ceilee, maksudmu kita mengambil kata"ADA" dari suatu yang dahulu kitatidak miliki, sebelum aku melihatmu, tidak ada takut dihatiku namun setelah melihatmu, ADA takut dihatiku. Seringkali TIDAK ADA dan ADA terjadinya dalam diri kita, namun kita lengah dengan ADA. Wujud itu ADA, Wujud dari kata WAJADA, artinya menemukkan. Dulunya belum ditemukan, akhirnya menemukan."
"Wening belajar bahasa arab dari siapa ? sok bisa. ADA itu sendiri tidak bisa didefinisikan."bak Aristo.
Iyalah, Bibirmu ADA dan tanganku ADA. Makna bibir tidak bermakna tangan. Makna ADA pada bibr dan ADA pada tangan itu mempunyai satu makna. Tuhan itu ADA, mahluk itu ADA. Makna Tuhan tidak bermakna mahluk, namun makna ADA pada Tuhan semakna dengan ADA pada Tuhan."
"kalo gitu kita kompak dong dengan tuhan. Tapi guru ngaji wening kemarin bilang Tuhan itu tidak seperti segala sesuatu. Dengan makna ADA itu, kita udah seperti Tuhan dong. Idih takut ah, nanti kwalat ama guru ngaji."sok bego.
"Beda dong, kita ngomong tentang makna ADA bukan dari esensi Tuhan. Kalo makna ADA juga udah beda, Sementara kia bilang Tuhan itu ADA, maksudnya pi yee, kalau tidak semakna dengan ADA yang kita pahami. Bukan lawan dari ADA itu TIDAK ADA. Berarti Tuhan itu TIDAK ADA, ini yang kwalat. Kalo kata ADA pada Tuhan tidak bisa dipahami, itu berarti kita tidak akan pernah mengenal Tuhan !. Karena akan selalu berbeda makna,"sambil menggerakan tangannya menerapkan metode Quantum Teaching.
Berarti ADA itu mempunyai satu makna dan satu kata, namun bisa ditempatkan pada kata apa saja. Tidak seperti kata "bisa" namun kata ini bisa bermakna "racun ular" dan bisa bermakna "mampu". Satu kata tapi mempunyai makna yang berbeda. Waduh, aku kayak berada di Istana kerajaan Yunani aja,"sambil beridiri memperagakan diri bak patung socrates.
"ADA itu lawannya TIDAK ADA. Tidak ada hanya mempunyai satu makna. Berarti ADA juga mempunyai satu makna, Jika ADA mempunyai dua makna, maka akan terjadi kontradiksi."tangkas Wening.
"Bri daku penjelasan wahai bunda pertiwi ? "sambil bersujud di hadapan Wening. Saat itu Wening lalu berdiri mengambil sehelai kerta kosong dan pena.
"Begini, lihat pada kertas kosong ini. Saya akan menggambarkan lubang!"sambil menggambar lingkaran.
"Lubang atau lingkaran, ah kamu bisa membuatku tidakk khusyu' aja."tancap gelo.
"sorry, lingkaran. Ada dua titik yang berada dalam lingkaran itu, sementara ada satu titik di luar lingkaran. Kedua titik itu bermakna ADA, dan yang diluar lingkaran bermakna TIDAK ADA, Dalam hal ini tidak terjadi kontradiksi. Karena ADA dan TIDAK ADA tidak terkumpul pada satu tempat. Ini berarti dua titik itu mempunyai makna sama.
Jika dua titik ADA itu tidak mempunyai makna yang sama tetapi berlainan makna, maka satu dari kedua titik itu harus berada di luar. Diluar ADA berkumpul dengan TIDAK ADA. Ini kontradiksi.
Jika dua titik ADA yang di dalam lingkaran ditempatkan di luar lingkaran, maka ADA juga akan berkumpul dengan TIDAK ADA. Ini Kontrdiksi.
Jika dua titik ADA ditempatkan di dalam lingkaran maka ADA tidak berkumpul dengan TIDAK ADA. Ini bukan kontradiksi "mantan guru matematika ini boleh juga gayanya"
"Wening tidur ya, penjelasanmu telah membuatku orgasme."gurau Gelo.
Dasar..., makanya beli kado ulang tahun mama." ejek Wening
Olehh Iklas budiman
Tulisan Pengantar Paket Kajian Filsafat Ketuhanan YPI Al Jawad Bandung
Sabtu, 8 november 2003
. Read More..
Tuesday, 18 November 2008
Doa
Dasar anak setan luh" begitu keras umpatan ibu dipinggiran kota kepada anaknya yang bandelnya kebangetan(terlalu) kata-kata itu oleh sebagian orang diartikan sebagai do'a. Jadi jika itu benar maksudnya mendoakan anaknya agar menjadi setan. Tentu saja hal tersebut dibantah oleh si ibu, karena memang tidak ada maksud kearah itu, tapi kenyataannya umpatan itu tidak mengurangi kebandelan si anak, besar kemungkinan hal itu malah membuat anak semakin bandel. Semakin bandelnya si anak bisa jadi pengaruh dari kata-kata (umpatan/sumpah serapah) yang dia dengar sehari-hari.
Hinga kata-kata itu begitu akrab dengan dirinya sampai melekat dalam hati. Kata-kata negatif melekat dalam hatinya sangat menguasai dirinya, sampai mempengaruhi perilakunya.
Seberapa besar kata-kata/ucapan mempengaruhi jalan hidup seorang ? jika diri kita akrab dengan kata-kata negatif perilaku kita menjadi negatif, sebaliknya jika kita akrab dengan kata-kata positif mendorong perilaku kita menjadi positif. BENARKAH ?
Coba ukur pengalaman hidup kita seberapa banyak kata-kata yang baik kita ucapkan atau kita dengar atau sebaliknya, lalu bagaimana perilaku kita sekarang ? lebih mencerminkan hal yang baik atau buruk ???
Tidak ada energi yang hilang dialam semesta ini hanya berubah bentuk, seluruh tenaga yang kita keluarkan tidak hilang begitu saja, karena memiliki konsekwensi logis yang mempengaruhi jalan hidup kita. Jadi energi yang kita pakai untuk berfikir menjadi energi perbuatan lalu berubah menjadi energilainnya, begitu seterusnya.
Kata orang bijak "Doa itu memanusiakan manusia" Doa merupakan pengakuan bahwa diri manusia itu adalah mahluk yang bergantung kepada Sang Pencipta. Sang Pencipta yang kuasa untuk mengabulkan segala doa yang dipanjatkan manusia. Doa yang baik harus selaras dengan usaha yang dijalankan. Satu contoh : kita berdoa untuk keselamatan dalam perjalanan, usaha yang kita jalankan adalah dengan memilih jalan yang aman & tetap waspadaterhadap ganguan-ganguan yang mungkin bisa terjadi. Memang tanpa doapun perjalanan kita bisa selamat dampai ditujuan, lalu dimana bedanya ?, Orang yang berdoa bisasanya mensyukuri takala ia selamat sampai tujuan & berterima kasih kepada Sang Pencipta.
Sekilas perbedaan itu seolah tidak terlalu jauh akan tetapi justru sebaliknya jika itu sudah menjadi jalan hidupnya. Orang yang selalu berdoa dengan baik pasti selalu bersyukur, rasa syukurnya memiliki pengaruh yang baik terhadap dirinya dan lingkungan.. Read More..
Hinga kata-kata itu begitu akrab dengan dirinya sampai melekat dalam hati. Kata-kata negatif melekat dalam hatinya sangat menguasai dirinya, sampai mempengaruhi perilakunya.
Seberapa besar kata-kata/ucapan mempengaruhi jalan hidup seorang ? jika diri kita akrab dengan kata-kata negatif perilaku kita menjadi negatif, sebaliknya jika kita akrab dengan kata-kata positif mendorong perilaku kita menjadi positif. BENARKAH ?
Coba ukur pengalaman hidup kita seberapa banyak kata-kata yang baik kita ucapkan atau kita dengar atau sebaliknya, lalu bagaimana perilaku kita sekarang ? lebih mencerminkan hal yang baik atau buruk ???
Tidak ada energi yang hilang dialam semesta ini hanya berubah bentuk, seluruh tenaga yang kita keluarkan tidak hilang begitu saja, karena memiliki konsekwensi logis yang mempengaruhi jalan hidup kita. Jadi energi yang kita pakai untuk berfikir menjadi energi perbuatan lalu berubah menjadi energilainnya, begitu seterusnya.
Kata orang bijak "Doa itu memanusiakan manusia" Doa merupakan pengakuan bahwa diri manusia itu adalah mahluk yang bergantung kepada Sang Pencipta. Sang Pencipta yang kuasa untuk mengabulkan segala doa yang dipanjatkan manusia. Doa yang baik harus selaras dengan usaha yang dijalankan. Satu contoh : kita berdoa untuk keselamatan dalam perjalanan, usaha yang kita jalankan adalah dengan memilih jalan yang aman & tetap waspadaterhadap ganguan-ganguan yang mungkin bisa terjadi. Memang tanpa doapun perjalanan kita bisa selamat dampai ditujuan, lalu dimana bedanya ?, Orang yang berdoa bisasanya mensyukuri takala ia selamat sampai tujuan & berterima kasih kepada Sang Pencipta.
Sekilas perbedaan itu seolah tidak terlalu jauh akan tetapi justru sebaliknya jika itu sudah menjadi jalan hidupnya. Orang yang selalu berdoa dengan baik pasti selalu bersyukur, rasa syukurnya memiliki pengaruh yang baik terhadap dirinya dan lingkungan.. Read More..
Subscribe to:
Posts (Atom)

