Kupegang erat kendali untuk bergabung dengan orang-orang. Aku telah berputus asauntuk bergaul dan menemani mereka. Aku berpuaya untuk menjauhi mereka, hingga akutidak lagi terpengaruh dari celaan dan pujian mereka. Bagiku sama saja, mereka melakukan suatu hal yang memuliakanku atau menjatuhkan martabatku.
Akhirnya kuhadapkan diriku dengan naluriku ke hadapan Penyebab segala sebab dankurendahkan diriku dengan kerendahan yang alami ke haribaan Yang Mempermudah segala urusan yang sulit. Ketika aku beruzlah dalam masa yang sangat lama. Jiwaku pun memancarkan cahaya yang terang. Karena seringnya beriyadhah. Cahaya-cahaya malakul memancar atasnya, bunga-bunga jabarut menghiasi, sinar-sinar ahadiah menyinarinya,dan kelembutan-kelembutan ilahi bersanding dengannya, rumus-rumus yang tersingkap dengan pembuktian demonstratifnya, kini kusaksikan hakikatnya ditambah dengan hal-halyang baru. Aku melihat rahasia-rahasia Ilahi, hakikat-hakikat Rabbani,..."(KitabAl-Himat Al-Muta'aliyah, jilid 1 hal 7-8).
Untaian kalimat diatas menerangkan sikap spiritual yang dirasakan oleh seorang filosof yang dikenal dengan Mulla Shadra. Suatu ketika ada seorang yang menjelek-jelekan Mulla Shadra dan hal ini sampai ke telinga Imam Khomeni ra, beliaupun berkata,"Mulla Shadra, Wa Ma Adraka Ma Mulla Shadra".
Muhammad bin Ibrahim bin Yahya Qowami dikenal dengan Shadruddin Syirazi atau Shadrul Mutaallihin atau Mulla Shadra. Beliau dilahirkan kira-kira tahun 979 atau 980 H. Pada masa mudanya, beliau berhijrah dari Syiraz menuju Isfahan untuk menuntut ilmu. Dua orang gurunya yang terkenal, yaitu Syaikh Bahai dan Mir Damad mengajarkan ilmu aqli dan naqli. Karena kedengkian dari teman-temannya, beliau akhirnya beruzlah ke desa Kahak, Qom. Pada waktu ingin menunaikan ibadah haji yang ketujuh, ditengah perjalanan beliau meninggal dunia di kota Bashrah pada tahun 1050 H. Perjalanan kehidupan Mulla Shadra melalui tiga periode,
1. Periode menuntut ilmu aqli dan naqli dari guru-gurunya di Syiraz dan Isfahan.
2. Periode Uxlah di desa Kahak, Qom
3. Periode mengajar, menulis dan menjawab pertanyan-pertanyaan.
Adapun perjalanan pemikiran melalui lima periode,
1. Periode pertama, yaitu masa mempelajari dan mengikuti pemikiran-pemikiran para filodof dan ahli teoligi, baik itu dari aliran filsafat peripatetik ataupun aliran filsafat iluminasi dan dari pemikiran As'ariyah ataupun pemikiran mu'tazilah. Pada masa ini diibaratkan sebagai,"Kebaikan orang-orang yang berbaik adalah keburukan bagi pada muqorrabin". Beliau menyadari pada masa ini, ia telah menghabiskan umurnya dan merasa telah berbuat lengah dari berzikir dan berpikir, akhirnya beliau pun beristigfar.
2. Periode kedua, yaitu masa pergerakan subtansi jiwa dan perubahan ruhiyah dari pluralitas menuju wahdah (kesatuan), atau perjalanan dari mahluk menuju Al-haqq dengan menyaksikan awal penciptaan.
3. Periode ke tiga, yaitu masa pergerakan subtansi jiwa dan perubahan ruhiyah dari kesatuan menuju kesatuan, atau perjalanan dari Al-Haqq menuju Al-Haqq bersama dengan Al-Haqq sambil menyaksikan hakikat-hakikat Al-Asma Al-Husna inilah perjalanan yang terpanjang.
3. Periode ke empat, yaitu masa pergerakan subtansi jiwa dan perubahan ruhiyah dari kesatuan menuju pluralitas, atau perjalanan dari Al-Haqq menuju mahluk dengan menyaksikan tanda-tanda kebesaran Tuhan dalam keberanekaragaman lokus-lokus manifestasi keagungan dan keindahan-Nya.
5. Periode kelima, yaitu masa pergerakan substansi jiwa dan perubahan ruhiyah dari pluralitas menuju pluralitas, yaitu perjalanan dari mahluk menuju mahluk bersama Al_haqq untuk menyampaikan pesan Al-Haqq kepada lokus-lokus manifestasi-Nya dengan bahasa pluritas dalam mengajarkan ilmu, menulis danmembimbing penyusian diri murid-muridnya.(Rahiq Makhtum Jilid 1, hal 27, Ayatullah Jawadi Amuli) Perjalanan ini menghasilkan karya-karya yang luar bisa dalam aliran filsafat transendental atau al-hikmah al-mutaaliyah. Topik-topik pembahasan dalam aliran filsafat ini diringkas dengan perkataan Aiman Ali as,"Allah mengasihi seseorang yang mempersiapkan dirinya dan bersiap untuk ke kuburnya serta mengetahui dari mana, di mana dan kemana."(Kitab I'lam al-din, hal 334)."Dari mana mengisyaratkan pada tempat asal,"Dahulu Allah ada, dan tak ada satupun yang bersama-Nya", sekarang seperti dahulu" dan "ke mana" mengisyaratkan tempat kembali, "Para malaikat dan ruh turun dimalam itu dengan izin Tuhan mereka dengan membawa segala perintah". "Kemana" menunjukan busur naik, "Wahai jiwa yang tenang kembalilah pada Tuhanmu "dan" Para malaikat dan ruh naik kepada-Nya pada hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun". Adapun "di mana" mengisyaratkan hari perjalanan, "Maka berjanlah di bumu ini, lalu lihatlah", yaitu hari bertadabbur pada ayat-ayat Allah SWT.
Diantara kitab-kitab beliau yang membahas topik-topik tesebut (dari mana, dimana dan kemana), yaitu Al-Hikmah Al-Muta'aliyah (9 jilid), Al-Syawahidu Al-Rububiyyah, Al-Mabda wa Al-Ma'ad, Al-Arsyiah, Mafatihu Al-Ghayb, Al-Mazhahir Al-Ilahiyyah dan alam tafsir beliau yang dicetak menjadi tujuh jilid begitu juga pada penjelasan beliau terhadap kitab hadis Ushul Al-Kafi serta risalah beliau yang lain. Disini saya akan memberikan diagram untuk mempermudah penjelasan.

Keterangan :
A = Alam Akal, Alam Perintah, Ruh
B = Alam Mitsal, Alam Imajinal, Jiwa
C = Alam Materi, Alam Jasmani, Alam Penyaksian, Alam Penciptaan, Alam Mulk, Badan,Jasad.
-Hubungan B ke A, sebagai akal secara potensial (dengan pergerakan subtansi akan menjadi akal secara aktual).
-Hubungan A ke B, sebagai akal secara aktual
-Hubungan A ke B, A menjadi Alam BAtin
-Hubungan b ke C, B menjadi Alam Batin
-Alam Batin disebut juga dengan Alam Malakut.
Jiwa manusia melakukan perjalanan spiritual dengan ilmu serta melaksanakan riyadhah keagamaan dan ibadah-ibadah yang disyariatkan. Kesemuanya itu berfungsi sebagai proses pengilapan cermin yang mengeluarkan jiwa dari potensialitas menuju aktualitas hingga menjadi akal secara aktual setelah sebelumnya adalah akal secara potensial. "Kepada-Nya kalimat yang baik itu naik dan amal shaleh yang mengangkat kalimat itu".
Dalam proses naik atau kembali, jiwa menuju kesempurnaan dengan ilmu dan memalingkan diri dari perkara-perkara duniawi dan jasmani. Jiwa seorang yang arif senantiasa menghadap pada alam kesucian dan mengharapkan kedekatan dengan-Nya. Adapun orang yang bodoh hanya mencintai hal-hal yang batil dan angan-angan yang cepat berakhir. Tak ada keraguan bahwa dunia dan keinginan-keinginan duniawi adalah perkara-perkara yang batil. Para pecinta dunia akan dikumpulkan ke alam kebinasaan, kejahatan dan kegelapan. Tempat kembalinya adalah neraka dan baginya azab yang pedih. Mungkin dari sinilah kia bisa merenungkan sabda rasulullah SAW kepada imam Ali as, "Wahai Ali, jika manusia mendekatkan diri mereka kepada Tuhan mereka dalam pintu-pintu kebaikan, maka dekatkanlah dirimu pada-Nya dengan bermacam-macam akal, engkau akan mendahului mereka dengan beberapa derajat dan kedekatan disis manusia di dunia dan kedekaatan disisi Allah di akherat."(Hilyat Al-Awliya, juz 1, hal 18). Apakah yang dimaksud dengan bermacam-macam akal ? rasulullah saw bersabda,"Aku diberikan kalimat-kalimat yang serba mencakup". Kalimat-kalimat diatas adalah hakikat-hakikat dari maujud-maujud dan entitas-entitasnya yang terdapat di alam akal. Alam akal ini diibaratkan dengan surga pertemuan karena alam ini lebih dekat dengan Tuhan. Adapun surga yang mengalir sungai-sungai mengalir dibawahnya diibaratkan dengan alam mitsal.
Jika ini belum jelas, masilah kita renungkan kembali sebuah paragraf dalam doa kumail, sebuah doa yang diajarkan oleh Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib kepada muridnya, Kumail bin Ziyad,"Aku sabar menanggung siksa-Mu, mana mungkin aku mampu bersabar berpisah dari-Mu. Aku sabar menahan api-Mu, mana mungkin aku mampu bersabar melihat pada kemuliaan-Mu". Dalam salah satu surat Imam Khomeni ra kepada putrinya yang menjelaskan keadaan beliau saat membaca doa diatas, "Aku tak mampu membaca paragraf ini dan beberapa paragraf yang lain dalam doa yang mulia ini dengan jujur hingga sekarang. Aku membacanya dengan lisan Ali as" (Al-Mazhahir Al-Rahmaniyyah, hal 52). Apakah yang dimaksud "mana mungkin aku mampu bersabar berpisah dari-Mu dan mana meungkin aku mampu bersabar melihat pada kemuliaan-Mu itukah yang dimaksud dengan surga pertemuan yang tertinggi ?
Memang kita seharusnya perlu banyak merenung ???
Oleh : Iklas Budiman
Tulisan Pengantar Paket Kajian Filsafat Ketuhanan
YPI Al Jawad Bandung
Sabtu, 8 November 2003
.
.


0 comments:
Post a Comment